Anggota DPRD Jatim Komisi E, Suwandy Firdaus Apresiasi Implementasi Program MBG di Ponpes Amanatul Ummah Mojokerto
Mojokerto, Moralita.com – Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Komisi E, Dr. Suwandy Firdaus, M.Hum, menegaskan komitmennya dalam mendukung penuh implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai diterapkan di Pondok Pesantren (Ponpes) Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto.
Program ini dinilai sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan santri serta berdampak pada ekonomi masyarakat sekitar.
Dr. Suwandy Firdaus menyatakan bahwa Program MBG merupakan inisiatif pemerintah pusat yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberian makanan bergizi secara gratis.
Sebagai perwakilan dari Fraksi NasDem di DPRD Jawa Timur, ia menegaskan bahwa pihaknya akan terus mendukung pelaksanaan program tersebut di berbagai daerah, termasuk di Ponpes Amanatul Ummah yang diasuh oleh KH. Asep Saifuddin Chalim, seorang ulama yang dikenal luas atas kepeduliannya terhadap masyarakat, khususnya di Kabupaten Mojokerto.
“Program ini adalah kebijakan strategis pemerintah pusat yang telah melalui pembahasan mendalam, terutama dalam aspek anggaran yang dikelola oleh Kabinet Presiden Prabowo. Kami, di DPRD Provinsi Jatim, tidak memiliki alasan untuk tidak mendukung program positif ini. Kami berharap implementasi MBG di Amanatul Ummah dapat berjalan optimal dan memberikan dampak yang signifikan bagi santri dan masyarakat sekitar,” ujar Suwandy saat mengunjungi dapur MBG Amanatul Ummah, pada Senin (17/2).
Lebih lanjut, ia mengapresiasi sistem distribusi bahan baku dalam program MBG di Amanatul Ummah yang melibatkan masyarakat desa sekitar sebagai pemasok bahan mentah. Dengan demikian, program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan gizi santri tetapi juga memberikan dampak ekonomi positif bagi warga setempat.

“Kami ingin memastikan bahwa masyarakat, khususnya anak-anak, tumbuh sehat, cerdas, dan kuat. Inilah tujuan utama dari program MBG. Selain itu, dengan melibatkan masyarakat sekitar dalam penyediaan bahan baku, kita juga turut berkontribusi dalam pemberdayaan ekonomi lokal,” jelasnya.
Dalam kunjungannya ke dapur umum MBG Amanatul Ummah, Suwandy juga mengapresiasi penggunaan peralatan makan berbahan stainless steel yang memenuhi standar kesehatan dan higienisasi.
“Saya sangat mengapresiasi standar kebersihan yang diterapkan di dapur MBG ini. Penggunaan tempat makan berbahan stainless steel menunjukkan komitmen tinggi dalam menjaga kesehatan santri dan masyarakat penerima manfaat,” ungkapnya.
Sementara itu, Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah, KH. Asep Saifuddin Chalim, menekankan bahwa keberhasilan Program MBG dapat menjadi kontribusi besar dalam mencetak generasi muda yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Oleh karena itu, ia berharap program ini dapat diperluas dan diterapkan di lebih banyak daerah di Indonesia.
Kyai Asep juga menjelaskan pentingnya standarisasi peralatan makan dalam program MBG. Ia mengkritik penggunaan wadah plastik di beberapa daerah yang tidak sesuai dengan standar kesehatan.
“MBG di Amanatul Ummah, kami memastikan seluruh peralatan makan menggunakan stainless steel yang telah memenuhi standar kesehatan. Wadah ini disebut ‘ompreng’ dan harus memenuhi ketentuan yang berlaku,” jelasnya.
Lebih dari sekadar program sosial, KH. Asep menegaskan bahwa MBG adalah gerakan nasional yang bertujuan menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan sejahtera.
“Kami tidak merasa rugi, tetapi justru berbahagia karena dapat berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia yang lebih maju. Ini adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai bangsa yang telah merdeka,” tambahnya.
Saat ini, dapur umum MBG di Pacet menyiapkan sekitar 7.000 porsi makanan per hari, yang tidak hanya diperuntukkan bagi santri, tetapi juga bagi sekitar 300 warga kurang mampu, termasuk ibu hamil, balita, dan masyarakat miskin ekstrem. Makanan ini bahkan diantarkan langsung kepada penerima manfaat.
Kyai Asep menjelaskan bahwa bahan baku dalam program MBG masih dipasok dari desa-desa sekitar Amanatul Ummah, sehingga program ini tidak hanya berdampak pada aspek gizi tetapi juga menjadi stimulus bagi perekonomian lokal.
“Saat ini, kami memiliki dua dapur MBG di Pacet, satu dapur di MBI Amanatul Ummah, serta satu dapur di Surabaya. Program ini akan terus dikembangkan dan dievaluasi secara berkala untuk memastikan keberlanjutannya,” tandasnya.






