Dugaan Keracunan MBG, Santri Ponpes Al Hidayah Kutorejo Mojokerto Dirujuk ke Faskes
Mojokerto, Moralita.com – Insiden dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG) kembali mengusik ruang pendidikan berbasis pesantren. Puluhan santri Pondok Pesantren Al Hidayah Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, dilarikan dan dirujuk ke Fasilitas Kesehatan setelah mengalami gangguan kesehatan dengan gejala yang mengarah pada keracunan makanan.
Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (10/1/2026) pagi, ketika para santri mulai menunjukkan keluhan serupa, mulai dari pusing hebat, mual, muntah, hingga diare. Kepala Puskesmas Gondang, dr. Rokhmatun Naja, membenarkan adanya lonjakan pasien yang datang hampir bersamaan dari satu lokasi yang sama.
“Sekitar pukul 09.30 WIB kami menerima 17 pasien, terdiri dari 14 santri perempuan dan 3 santri laki-laki, seluruhnya berasal dari Pondok Pesantren Al Hidayah Kutorejo. Mereka datang dengan keluhan pusing, mual, muntah, dan diare, didampingi oleh ustaz dan ustazah,” ujar dr. Rokhmatun Naja saat ditemui di Puskesmas Gondang.
Menurutnya, hingga saat ini seluruh pasien masih dalam proses penanganan medis awal. Meski demikian, pola gejala yang muncul pada para santri menunjukkan indikasi kuat adanya gangguan saluran pencernaan.
“Keluhannya relatif sama, yakni mual, muntah, pusing, serta diare. Sudah dilakukan penanganan kegawatdaruratan awal dan juga observasi,” jelasnya.
Petugas tenaga kesehatan Puskesmas Gondang segera melakukan penanganan kegawatdaruratan awal sesuai standar medis. Tindakan yang diberikan meliputi pemasangan infus, pemberian injeksi antiemetik untuk meredakan mual dan muntah, serta analgesik guna mengurangi rasa nyeri dan ketidaknyamanan pasien.
Hasil penanganan awal menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Kondisi para santri dilaporkan mulai stabil, dengan frekuensi muntah dan diare yang berangsur menurun serta keluhan pusing yang mulai mereda.
“Secara klinis, kondisi mereka menunjukkan tren positif. Keluhan mulai berkurang, namun tetap kami pantau secara ketat,” tambah dr. Naja.
Salah satu korban, seorang santriwati inisial SD berusia 17 tahun asal Sidoarjo, menuturkan kronologi awal keluhan yang ia alami. Ia mengaku mulai merasakan gejala pada Jumat malam sekitar pukul 18.30 WIB.
“Saya mulai mual, muntah, pusing, dan perut terasa sakit,” tuturnya.
Ia menjelaskan, pada awalnya hanya tiga santri yang mengeluhkan kondisi serupa. Namun, seiring waktu, jumlah santri yang merasakan gejala yang sama terus bertambah. Menurut pengakuannya, ia tidak mengonsumsi makanan lain pada sore hari selain makanan bergizi gratis (MBG) yang disajikan di sekolah saat siang hari.
“Saya tidak makan sore. Hanya makan MBG di sekolah siang itu saja,” ujarnya.
Ketika ditanya mengenai menu MBG yang dikonsumsi, santriwati tersebut menyebut hidangan berupa soto ayam dengan lauk ayam bumbu dipotong dadu yang menurutnya menyerupai ayam yang biasa disajikan pada mie ayam.
“Sotonya pakai ayam bumbu, mirip ayam mie ayam,” ungkapnya.
Sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan, pihak pondok pesantren sempat memberikan pertolongan pertama. Tim P3K pondok memberikan obat antidiare kepada para santri yang mengalami keluhan, lantaran pada awalnya gejala tersebut diduga sebagai gangguan pencernaan biasa.
Namun, ketika jumlah santri yang mengalami keluhan terus bertambah dan kondisi tidak kunjung membaik, pihak pondok memutuskan untuk membawa para santri ke Faskes guna mendapatkan penanganan medis lanjutan.
Kasus ini menambah daftar panjang evaluasi terhadap aspek keamanan pangan dalam program makanan massal, khususnya di lingkungan pendidikan dan pesantren. Dugaan keracunan ini tidak sekadar soal perut yang melilit, melainkan menyentuh tanggung jawab negara dan pengelola terhadap standar higienitas pangan.
Sebab, ketika makanan yang dimaksudkan untuk menyehatkan justru mengantarkan anak-anak ke ruang infus, maka yang perlu disembuhkan bukan hanya tubuh para santri melainkan juga sistem yang lalai menjaga keselamatan mereka.






