OTT KPK Bupati Cilacap, Diperiksa di Polres Banyumas lalu Dibawa ke Jakarta
Banyumas, Moralita.com – Suasana mendadak hening ketika sorot kamera dan rentetan pertanyaan wartawan menghujani langkah Bupati Cilacap, Syamsul Auliya Rachman. Usai terjaring OTT KPK, ia memilih diam tanpa sepatah kata pun ketika keluar dari Mapolresta Banyumas pada Jumat malam (13/3).
Di tengah sorotan publik yang tajam, Bupati Cilacap itu hanya berjalan cepat menuju kendaraan yang akan membawanya ke Stasiun Purwokerto, seolah menutup rapat setiap kemungkinan klarifikasi.
Dengan mengenakan kemeja putih dan masker yang menutupi sebagian wajahnya, Syamsul melangkah cepat melewati kerumunan awak media yang telah menunggu sejak sore. Tak satu pun pertanyaan dijawab. Tidak ada gestur menjelaskan. Yang terlihat hanya langkah tergesa menuju mobil yang telah disiapkan aparat penegak hukum.
Situasi yang sama berulang ketika rombongan tiba di Stasiun Purwokerto. Bupati Cilacap itu kemudian terlihat duduk di ruang tunggu VIP tanpa masker. Ia bersandar di sofa dengan wajah tampak lelah, sesekali memejamkan mata dan mengecap bibir, sementara para petugas KPK berjaga di sekitarnya.
Di tengah suasana yang sarat ketegangan itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Cilacap, Sadmoko Danardono, juga memilih langkah serupa irit bicara. Setibanya di stasiun, ia berjalan cepat menuju ruang tunggu VIP menyusul bupati yang telah tiba lebih dahulu.
Dibawa ke Jakarta dengan Kereta
Perjalanan panjang kasus ini bermula dari operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK pada Jumat (13/3). Setelah diamankan, Syamsul Auliya Rachman bersama sejumlah pejabat lain langsung dibawa untuk menjalani pemeriksaan awal di Mapolresta Banyumas.
Bupati tiba di Mapolresta Banyumas menggunakan sebuah bus sekitar pukul 16.15 WIB. Sejak saat itu, aktivitas pemeriksaan berlangsung tertutup di dalam gedung kepolisian.
Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa Syamsul bersama sejumlah pejabat keluar dari Mapolresta Banyumas sekitar pukul 21.12 WIB. Rombongan yang terdiri dari tujuh kendaraan kemudian bergerak menuju Stasiun Purwokerto di bawah pengawalan aparat.
Setibanya di stasiun, rombongan langsung diarahkan menuju ruang tunggu VIP. Beberapa penyidik KPK yang turut mengawal tampak membawa tas ransel dan koper indikasi bahwa proses pemeriksaan lanjutan akan berlanjut di Jakarta.
Tak lama kemudian, Syamsul diberangkatkan menuju ibu kota menggunakan Kereta Api Purwojaya yang berangkat dari Stasiun Purwokerto pada pukul 21.37 WIB.
Langkah itu menandai babak baru proses hukum yang kini menjadi sorotan publik. Operasi penindakan ini tidak hanya menyeret nama bupati. Sejumlah pejabat penting di lingkungan Pemerintah Kabupaten Cilacap juga ikut diperiksa.
Pantauan di Mapolresta Banyumas pada Jumat sore sekitar pukul 17.15 WIB menunjukkan beberapa pejabat sempat keluar ruangan untuk menunaikan shalat Ashar di musala Polresta Banyumas.
Di antara mereka terlihat:
– Sekda Cilacap Sadmoko Danardono.
– Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Buddy Haryanto.
– Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermades) Heru Kurniawan.
– Kepala Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (DPKUKM) Oktrivianto Subekti.
– Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Ichlas Riyanto.
Ketika wartawan mencoba meminta keterangan, Sekda Cilacap hanya memberikan jawaban singkat yang terkesan datar.
“Ikuti saja,” ujarnya singkat saat ditanya mengenai agenda pemeriksaan di Polresta Banyumas.
Sementara pejabat lain yang berjalan di belakangnya memilih tetap diam tanpa memberikan komentar apa pun.
Sebelumnya, pihak Komisi Pemberantasan Korupsi telah membenarkan operasi tangkap tangan terhadap Bupati Cilacap tersebut.
“Benar (Bupati Cilacap ditangkap),” ujar Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto saat dikonfirmasi wartawan.
Namun hingga berita ini diturunkan, KPK belum merinci secara resmi perkara yang melatarbelakangi operasi penindakan tersebut.
Ketika Kekuasaan Bertemu Sunyi
Dalam lanskap politik lokal, Bupati biasanya tampil sebagai figur paling vokal ketika mempromosikan keberhasilan pembangunan. Namun malam itu di Purwokerto, panggung berubah drastis.
Tidak ada pidato. Tidak ada klarifikasi. Hanya langkah cepat, wajah tertutup masker, dan perjalanan panjang menuju Jakarta.
Kadang dalam politik, kata-kata bisa menjadi senjata. Namun dalam situasi tertentu seperti malam itu diam justru menjadi bahasa yang paling keras yang meliarkan persepsi publik.






