RSUD Prof. dr. Soekandar Terima Bantuan Cathlab dari Kemenkes, Perkuat Layanan Stroke dan Jantung di Mojokerto
Mojokerto, Moralita.com – Upaya memperkuat layanan kesehatan rujukan di daerah terus dilakukan pemerintah pusat. Salah satunya melalui penyerahan alat kesehatan canggih Cathlab Azurion 5M20 dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia kepada RSUD Prof. dr. Soekandar Mojokerto Jawa Timur.
Penandatanganan berita acara serah terima dalam sebuah seremoni resmi. Bantuan alat kesehatan untuk pasien Stroke dan Jantung tersebut diharapkan menjadi tonggak penting peningkatan kualitas layanan diagnosis dan terapi penyakit jantung serta saraf di Kabupaten Mojokerto.
Penandatanganan berita acara serah terima tersebut menjadi momentum penting bagi RSUD Prof. dr. Soekandar dalam memperkuat kapasitas pelayanan kesehatan rujukan, khususnya pada penyakit degeneratif yang kini semakin meningkat prevalensinya.

Dalam kesempatan tersebut, para narasumber menegaskan bahwa bantuan alat kesehatan Azurion 5M20 Cathlab dari Kementerian Kesehatan merupakan bagian dari program prioritas nasional untuk meningkatkan kualitas layanan diagnosis sekaligus penanganan penyakit jantung dan saraf, termasuk stroke.
Plt. Direktur RSUD Prof. dr. Soekandar, dr. Gigih Setijawan, Sp.P, MARS, FISR, menyampaikan bahwa diterimanya alat kesehatan modern tersebut diharapkan memberikan manfaat luas bagi masyarakat Kabupaten Mojokerto, terutama bagi pasien yang menderita penyakit degeneratif seperti stroke dan gangguan kardiovaskular.
Menurutnya, alat Cathlab memiliki peran strategis karena tidak hanya berfungsi untuk mendeteksi penyakit secara lebih akurat, tetapi juga memungkinkan tindakan medis intervensi dilakukan secara cepat dan tepat.
“Penggunaan alat ini ke depan difokuskan untuk pasien dengan penyakit jantung dan saraf, misalnya pasien stroke, baik stroke akibat perdarahan maupun non-perdarahan. Alat ini bisa digunakan untuk diagnosis sekaligus tindakan pengobatan,” jelas dr. Gigih usai acara, Kamis (12/3).
Ia juga menegaskan bahwa RSUD Prof. dr. Soekandar secara sarana dan prasarana telah siap mengoperasikan alat kesehatan canggih tersebut. Rumah sakit telah memiliki tenaga medis yang kompeten, termasuk dokter spesialis neurologi dengan kemampuan neurologi intervensi serta perawat yang telah mendapatkan pelatihan khusus.

Saat ini, tahapan yang tengah diselesaikan adalah proses perizinan operasional terkait aspek radiasi dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten). Setelah izin tersebut terbit, alat Cathlab dipastikan dapat segera dioperasikan secara penuh untuk melayani masyarakat.
Selain kesiapan teknis, RSUD Prof. dr. Soekandar juga tengah mempersiapkan kerja sama dengan BPJS Kesehatan agar layanan ini dapat diakses oleh seluruh masyarakat, khususnya peserta UHC Prioritas Kabupaten Mojokerto.
“Masih ada beberapa hal yang harus dipersiapkan, salah satunya kerja sama dengan BPJS. Harapannya, pelayanan ini nantinya dapat ter-cover BPJS sehingga masyarakat Kabupaten Mojokerto yang memiliki BPJS atau UHC Prioritas bisa mendapatkan layanan, bukan hanya pasien umum saja,” ujar dokter senior spesialis paru ini.
Ia menambahkan bahwa setelah kerja sama tersebut berjalan, layanan Cathlab akan terbuka secara luas bagi masyarakat.
“Jika kerja sama dengan BPJS sudah berjalan, maka otomatis pelayanan ini akan terbuka dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara maksimal,” katanya.
dr. Gigih juga menegaskan bahwa keberadaan alat tersebut merupakan investasi besar dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan daerah. Oleh karena itu, pengoperasian dan pemeliharaannya harus dilakukan secara hati-hati dan profesional.
Menurutnya, peningkatan kasus penyakit degeneratif seperti penyakit jantung dan gangguan saraf menjadi tantangan kesehatan utama di masa depan. Dengan hadirnya alat Cathlab, RSUD Prof. dr. Soekandar diharapkan mampu berperan lebih besar dalam upaya penanganan penyakit tersebut.
“Ke depan yang makin meningkat adalah penyakit degeneratif seperti penyakit jantung dan saraf. Dengan adanya alat Azurion ini, kita dapat mendiagnosis sekaligus memberikan tindakan medis bagi pasien. Apalagi di RSUD Soekandar sudah ada dokter neurologi intervensi,” ungkap dr. Gigih.
Ia berharap bantuan tersebut dapat menjadi awal dari peningkatan layanan kesehatan yang lebih komprehensif di Mojokerto.
“Semoga ke depan juga disusul bantuan alat mammografi dari Kementerian Kesehatan. Semua bantuan ini tidak kita beli, kita menerima dan memanfaatkannya untuk masyarakat. Ini adalah investasi besar yang harus dijaga dengan baik,” katanya.
Menurut dr. Gigih, keberhasilan RSUD Prof. dr. Soekandar memperoleh bantuan tersebut tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak.
“Ini semua hasil doa dari seluruh komponen masyarakat Kabupaten Mojokerto, mulai dari pimpinan daerah, perangkat daerah, hingga masyarakat, khususnya para pasien kami,” ujarnya.
Bagian dari Program Nasional SIHREN
Bantuan alat Cathlab tersebut merupakan bagian dari program strategis Kementerian Kesehatan RI bernama SIHREN (Strengthening Indonesia’s Healthcare Referral Network).
Program ini bertujuan memperkuat jejaring rujukan layanan kesehatan nasional, khususnya pada penyakit prioritas yang dikenal dengan kelompok KJSU-KIA yaitu kanker, jantung, stroke, uronefrologi, serta kesehatan ibu dan anak.
Melalui program ini, Kementerian Kesehatan berupaya meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit rujukan di seluruh Indonesia melalui penyediaan alat kesehatan modern, penguatan kapasitas tenaga medis, serta modernisasi sistem rujukan nasional.
Dukungan Kemenkes untuk Layanan Stroke dan Jantung
Ketua Tim Kerja Standar Alat Kesehatan Direktorat Fasilitas Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan, dr. Ferdinandus Ferry Kandauw, menjelaskan bahwa program penguatan layanan stroke dan jantung menjadi salah satu fokus utama Kemenkes saat ini.
Menurutnya, RSUD Prof. dr. Soekandar dinilai telah memiliki kesiapan layanan yang baik, termasuk keberadaan dokter spesialis neurologi yang kompeten.
“RSUD Prof. dr. Soekandar sudah luar biasa dalam mempersiapkan layanan ini, terbukti dengan adanya dokter spesialis neurologi. Karena itu Kemenkes memberikan bantuan Cathlab sebagai alat penunjang layanan pasien stroke dan jantung,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Cathlab bukan hanya digunakan untuk mendeteksi penyakit, tetapi juga memungkinkan tindakan medis dilakukan secara cepat, termasuk dalam kondisi darurat.
“Cathlab ini bukan hanya untuk deteksi, tetapi juga untuk tindakan pelayanan bahkan emergency. Dengan alat ini, penanganan pasien stroke dan jantung bisa dilakukan lebih cepat sehingga peluang hidup pasien menjadi jauh lebih baik,” jelasnya.
Kementerian Kesehatan sendiri menargetkan distribusi alat Cathlab kepada 514 rumah sakit daerah di kabupaten/kota seluruh Indonesia.
Jika dibeli secara mandiri melalui e-catalog, harga satu unit alat Cathlab dapat mencapai belasan miliar rupiah. Namun melalui pengadaan nasional oleh Kemenkes, harga tersebut dapat ditekan hingga sekitar Rp9 miliar per unit.
Selain itu, alat tersebut juga dilengkapi dengan jaminan pemeliharaan selama 7 tahun serta jaminan ketersediaan suku cadang selama 10 tahun, yang disediakan oleh vendor resmi Philips.
“Silakan digunakan secara optimal oleh RSUD. Namun biaya operasional memang menjadi tanggung jawab rumah sakit sebagai bentuk komitmen pelayanan,” kata dr. Ferry.
Ia juga menyampaikan bahwa setelah tahapan distribusi Cathlab selesai, Kementerian Kesehatan akan melanjutkan program bantuan alat kesehatan lainnya, termasuk mammografi, untuk meningkatkan layanan deteksi dini kanker payudara.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir sejumlah pejabat dan perwakilan dari Kementerian Kesehatan, antara lain SKM PMU SIHREN Sekretariat Dirjen Kesehatan Lanjutan Kemenkes Gandhi Kristi, serta perwakilan tim pemeliharaan dari perusahaan penyedia alat kesehatan Philips.
Dengan hadirnya alat Cathlab modern ini, RSUD Prof. dr. Soekandar diharapkan dapat menjadi pusat layanan rujukan yang lebih kuat bagi masyarakat Mojokerto dan sekitarnya, sekaligus memperkuat sistem pelayanan kesehatan daerah yang semakin maju, modern, dan berorientasi pada keselamatan pasien.






