Beranda Daerah Temu Kangen Relawan Mubarok Mojokerto, Diantara Kopi, Silaturahmi, dan Penegasan Soliditas Mengawal Program Pro Rakyat
Daerah

Temu Kangen Relawan Mubarok Mojokerto, Diantara Kopi, Silaturahmi, dan Penegasan Soliditas Mengawal Program Pro Rakyat

Relawan Mubarok perwakilan berbagai organ kemasyarakatan di Kabupaten Mojokerto.

Mojokerto, Moralita.com – Di tengah riuh isu politik pasca-pilkada yang kerap berisik di luar, relawan Mubarok justru memilih jalan alternatif duduk bersama, ngopi bareng, dan saling menyapa sebagai saudara lama.

Temu kangen Relawan Mubarok digelar pada Selasa (16/12/2025) malam, di salah satu kafe di wilayah Mojokerto, dalam suasana hangat yang jauh dari kesan formal, namun sarat makna politik kebersamaan positifisme.

Pertemuan ini digagas sebagai ruang silaturahmi, temu kangen, sekaligus penguat keharmonisan internal relawan yang sejak awal mengusung pasangan Bupati dan Wakil Bupati Mojokerto, Gus Barra dan dr. Rizal. Antusiasme, tukar cerita, lempar tawa, dan lontar diskusi, menegaskan bahwa ikatan relawan tidak berhenti setelah kontestasi politik usai.

Sebagai inisiator kegiatan, Angga Supra Setia, yang juga bagian dari elemen relawan HMN, menegaskan bahwa agenda malam itu sederhana namun substansial.

“Tujuan utama pertemuan ini adalah silaturahmi, temu kangen, dan sambung seduluran. Relawan Mubarok ini dari awal hingga sekarang dibangun atas rasa persaudaraan. Kalau lama tidak bertemu, ya wajar kalau kangen,” ujarnya.

Baca Juga :  Meledaknya Rumah Polisi di Mojokerto, Dugaan Mengarah ke Bahan Peledak

Lebih jauh, Angga menjelaskan bahwa relawan Mubarok terdiri dari beragam unsur organisasi kemasyarakatan dan latar belakang sosial. Karena itu, menjaga keharmonisan internal menjadi kunci agar relawan tetap solid dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat Mojokerto.

“Bagian dari menjaga keharmonisan. Relawan Mubarok ini banyak, beragam, dan itu kekuatan. Kalau solid, kita bisa ikut mengajak masyarakat berpartisipasi membangun Kabupaten Mojokerto yang lebih maju, adil, dan makmur,” katanya.

Dalam diskusi yang berlangsung cair, seluruh unsur relawan sepakat untuk tetap mengedepankan kerja tim dan kebersamaan, sejalan dengan nilai yang mereka sebut sebagai Catur Abhipraya Mubarok untuk arah tujuan dalam bingkai kebhinekaan dan keharmonisan.

Temu Kangen Relawan Mubarok Mojokerto, Diantara Kopi, Silaturahmi, dan Penegasan Soliditas Mengawal Program Pro Rakyat
Diskusi hangat Relawan Mubarok.

Setiap perwakilan organ relawan diberi ruang menyampaikan aspirasi, refleksi, sekaligus kebanggaannya terhadap kepemimpinan Gus Barra dan dr. Rizal saat ini.

Baca Juga :  Pelantikan Rotasi 16 Pejabat Baru Ala Gus Bupati Mojokerto: Dari Sumpah Jabatan Sampai Sumpah Nggak Ada Pungli

Sejumlah relawan menilai bahwa kepemimpinan Gus Barra dan dr. Rizal (Mubarok)  layak dikawal karena dinilai relatif jauh dari praktik-praktik negatif seperti kolusi, nepotisme, dan korupsi. Persepsi itulah yang membuat relawan merasa bangga dan memiliki tanggung jawab moral untuk tetap menjaga suasana kondusif di tengah masyarakat.

Angga juga menegaskan bahwa pertemuan ini sekaligus menjadi penegasan terhadap isu-isu on harmonis yang berkembang di luar.

“Malam ini sekaligus menepis isu bahwa tim Mubarok sudah tidak solid. Faktanya, kita bisa ngopi bareng, diskusi bareng, konstruktif bareng. Ini bukti bahwa keharmonisan itu nyata, bukan sekadar slogan,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, sempat mencuat diskusi mengenai peran relawan dalam mengawal pemerintahan dan menyerap aspirasi masyarakat. Namun, Angga menekankan bahwa konteks utama pertemuan malam itu tetap silaturahmi.

“Dalam kehidupan bermasyarakat, tiap relawan punya kapasitas masing-masing. Ada yang lewat NGO, ada yang lewat lembaga masyarakat lainnya. Semua bisa menjadi penyambung lidah rakyat sesuai perannya,” jelasnya.

Baca Juga :  Revisi RTRW Mojokerto Terkendala Sinkronisasi Lahan, Pemkab Minta Dukungan Kementerian ATR/BPN

Ia menambahkan, relawan Mubarok menyadari bahwa Gus Barra dan dr. Rizal kini bukan lagi milik tim pengusung semata, melainkan milik seluruh masyarakat Kabupaten Mojokerto. Karena itu, sikap relawan harus dewasa, menjaga etika, dan tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan memecah belah.

Terkait agenda ke depan, pertemuan serupa tidak akan bersifat seremonial atau kaku.
“Harapan kami, pertemuan seperti ini bisa diagendakan beberapa kali dalam setahun. Tidak harus tiga bulan atau enam bulan sekali, tapi minimal setahun sekali, agar komunikasi dan kebersamaan tetap terjaga,” pungkas Angga.

Malam itu ditutup tanpa deklarasi politik, tanpa pidato panjang, tanpa baliho. Hanya secangkir kopi, gagasan omide konstruktif, dan satu pesan yang mengendap, soliditas relawan tidak selalu dibangun lewat rapat besar, tapi justru lewat silaturahmi sederhana yang jujur dan setara.

 

Sebelumnya

Jabatan Sekda Tulungagung Diturunkan Jadi Kepala Dinas, Tri Hariadi Dua Kali Mangkir Pelantikan

Selanjutnya

Puluhan Massa Demo di Polres Blitar, Tuntut Pemulihan Hak Korban Salah Tangkap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Moralita
Bagikan Halaman