Upacara Kemerderkaan Kyai Asep Wejang Santri Amanatul Ummah: Siap Jadi Ulama? Presiden? Jenderal? Konglomerat? yang Ya Lal Wathan
Mojokerto, Moralita.com – Kalau biasanya upacara 17 Agustus di sekolah cuma diisi dengan pidato yang bikin ngantuk, di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet suasananya lebih nendang.
Pendiri sekaligus pengasuhnya, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA, langsung turun tangan memimpin upacara bendera. Jadi jangan heran kalau yang jadi inspektur upacara untuk bakar semangat peserta upacara bukan camat atau lurah, tapi kiai besar miliarder sekaligus Guru besar.
Nah, dalam momen ini, Kyai Asep nggak cuma menyuruh santri berdiri tegak di bawah matahari Pacet yang syahdu, tapi juga menitipkan pesan. “Santri Amanatul Ummah itu harus meneladani syair Ya Lal Wathan.” lontar Kyai Asep dalam pidatonya, Minggu (17/8).
Buat yang belum tahu info, syair Ya Lal Wathan ini karya KH. Abdul Chalim (Ayah Kyai Asep) barengan KH. Abdul Wahab Hasbullah kala sebelum Indonesia Merdeka yang keduanya kini sudah menyandang gelar sebagai pahlawan nasional.
Dulu syair lagu ini dipakai buat membakar semangat pemuda Nahdlathul Wathan. Intinya: cinta tanah air itu bagian dari iman. Jadi penerus bangsa jangan kebanyakan nglamun tanpa aksi, apalagi gabut sambil scroll Medsos, kalau belum bisa kontribusi ke bangsa.
Biar makin berasa pada acara peringatan Kemerdekaan RI ke-80 di Ponpes Amanatul Ummah, syair lagu Ya Lal Wathan didendangkan langsung oleh Ning Riri. Ibaratnya, kalau di sekolah negeri biasanya pakai regu koor siswa, di sini justru dibikin menyala oleh Ning Riri sambil serentak ditirukan oleh semua santri.
Santri Amanatul Ummah Di Design untuk jadi Orang TOP di Bangsa ini
Yang agak bikin kening berkerut adalah target tinggi diberikan standar dari KH. Asep untuk para santriAmanatul Ummah. Kata beliau, santri harus siap jadi:
- Ulama besar yang Kharismatik.
- Pemimpin bangsa yang berorientasi Pro Rakyat.
- Konglomerat dermawan (Misal jadi Boss Tambang sampai Petani Sawit yang ngekspor barang jadi sesuai pesan Presiden Prabowo tentang Hilirisasi).
- Profesional Teknokrat Top, beretika, dan berintegritas.
Kalau dipikir-pikir, santri Amanatul Ummah ini dicetak dan disiapkan jadi Orang TOP. Bayangkan aja: pinter ngaji, bisa jadi Presiden, jadi Jenderal, kaya raya, tapi tetep dermawan. Mantap, Bosku!

Resepnya: Jangan Makan sampai Kenyang!
Lalu, bagaimana caranya? Menurut KH. Asep, kunci sukses itu sederhana tapi cukup bikin santri mikir dua kali:
1. Belajar tekun dan sungguh-sungguh.
2. Jangan makan kebanyakan, biar otak encer (selamat tinggal porsi jumbo).
3. Istiqamah dalam ibadah, termasuk janhan ninggalin shalat malam.
Tiga hal ini kalau dikombinasikan, kata Kyai Asep, bisa bikin santri tembus kampus-kampus top. Jadi, kalau ada yang gagal masuk UI atau Oxford, coba instrospeksi mungkin karena kebanyakan makan sampai perut begah jadi malas ngapa-ngapain.
Nasionalisme ala Pesantren Amanatul Ummah
Intinya, upacara 17 Agustus di Amanatul Ummah ini bukan sekadar formalitas naikkan bendera, tapi lebih ke penguatan identitas: santri itu harus cinta tanah air, religius, dan siap jadi orang penting.
Pesan Kyai Asep jelas: jangan puas cuma jadi ‘orang biasa’. Santri Amanatul Ummah harus jadi ulama, konglomerat, pemimpin bangsa, sekaligus profesional yang berkelas dunia.
Dan kalau suatu hari nanti jika lihat santri alumni Amanatul Ummah yang nongol di TV jadi menteri, ,Boss Perusahaan, Konglomerat, atau bahkan presiden, jangan kaget. Itu bukan kebetulan. Itu memang sudah di-briefing, di design sejak mereka dinobatkan sebagai santri Amanatul Ummah.
Karena santri Amanatul Ummah bukan hanya di created untuk jadi orang saleh. Mereka juga diblue print sepaket untuk jadi saleh, smart sekaligus sultan untuk memimpin bangsa ini 2045 kelak saat Indonesia Berwarna Emas 24 karat.







Usually I do not read article on blogs however I would like to say that this writeup very compelled me to take a look at and do it Your writing style has been amazed me Thank you very nice article