Beranda Daerah RSUD Prof. dr. Soekandar Gandeng UNAIR, Gagas Layanan Kesehatan Terintegrasi di Mojokerto Berbasis Riset dan Inovasi
Daerah

RSUD Prof. dr. Soekandar Gandeng UNAIR, Gagas Layanan Kesehatan Terintegrasi di Mojokerto Berbasis Riset dan Inovasi

Penandatanganan MoU

Surabaya, Moralita.com – Kemitraan antara institusi pelayanan kesehatan dan perguruan tinggi kian menjadi fondasi penting dalam sistem kesehatan modern. Hal ini tercermin dari penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara RSUD Prof. dr. Soekandar Mojokerto dan Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Selasa (17/3), di Kampus MERR-C UNAIR.

Kolaborasi ini tidak sekadar formalitas administratif, melainkan representasi integrasi antara praktik klinis, pendidikan medis, dan riset ilmiah yang berorientasi pada peningkatan kualitas layanan kesehatan masyarakat.

Kerja sama ini mencakup bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia tenaga kesehatan. Dalam konteks sistem kesehatan berbasis ilmu pengetahuan (evidence-based healthcare), integrasi ini memiliki peran krusial.

Rumah sakit tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat layanan kuratif, tetapi juga sebagai laboratorium klinis hidup yang menjadi sumber data empiris untuk pengembangan ilmu kesehatan.

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Rektor UNAIR, Prof. Dr. Muhammad Madyan, SE, M.Si, M.Fin dengan Plt. Direktur RSUD Prof. dr. Soekandar, dr. Gigih Setijawan, Sp.P, MARS, FISR. Di saat yang sama, perjanjian kerja sama teknis juga ditandatangani antara RSUD Prof. dr. Soekandar dengan Fakultas Kedokteran dan Rumah Sakit UNAIR.

Perjanjian kerja sama teknis ditandatangani antara RSUD Prof. dr. Soekandar dengan Fakultas Kedokteran dan Rumah Sakit Universitas Airlangga.
Perjanjian kerja sama teknis ditandatangani antara RSUD Prof. dr. Soekandar dengan Fakultas Kedokteran dan Rumah Sakit Universitas Airlangga.

Hal ini menunjukkan bahwa kolaborasi tidak berhenti pada level kebijakan, tetapi langsung menyentuh implementasi operasional di bidang pendidikan klinik dan penelitian medis. Dalam perspektif ilmiah, model kolaborasi ini dikenal sebagai Academic Health System (AHS), yakni sistem yang menghubungkan institusi pendidikan, layanan kesehatan, dan riset dalam satu ekosistem terpadu.

Baca Juga :  25 Peserta Lolos Administrasi Selter 3 Lowongan Kepala Dinas di Pemkab Mojokerto

Tujuannya adalah mempercepat translasi ilmu dari laboratorium ke praktik klinis (bench to bedside), sehingga inovasi medis dapat segera dirasakan manfaatnya oleh pasien secara tepat berbasis riset lapangan.

Secara mekanistik, kolaborasi antara RSUD Prof. dr. dan UNAIR bekerja melalui beberapa tahapan ilmiah. Pertama, pengumpulan data klinis dari pasien yang dilayani di rumah sakit. Data ini kemudian dianalisis oleh peneliti untuk mengidentifikasi pola penyakit, efektivitas terapi, serta faktor risiko kesehatan masyarakat.

Kedua, hasil analisis tersebut digunakan untuk menyusun protokol klinis berbasis bukti (clinical practice guidelines). Protokol ini bertujuan meningkatkan akurasi diagnosis, efektivitas pengobatan, serta keselamatan pasien.

Ketiga, temuan riset diintegrasikan dalam proses pendidikan tenaga kesehatan, termasuk mahasiswa kedokteran, keperawatan, dan profesi kesehatan lainnya. Dengan demikian, lulusan yang dihasilkan tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memahami praktik berbasis data empiris.

Keempat, hasil riset juga diarahkan pada pengabdian masyarakat, seperti program penanganan stunting, edukasi kesehatan, dan intervensi preventif berbasis komunitas. Dalam konteks Jawa Timur, isu stunting menjadi salah satu fokus utama karena berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia jangka panjang.

Plt. Direktur RSUD Prof. dr. Soekandar, dr. Gigih Setijawan, Sp.P, MARS, FISR menegaskan bahwa kerja sama ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kapasitas institusi. Keterlibatan UNAIR memungkinkan transfer pengetahuan, peningkatan kompetensi tenaga medis, serta pembaruan standar pelayanan kesehatan.

Baca Juga :  Bupati Mojokerto Resmikan Podcast SIAR DUHA dan Konter RSUD Prof. dr. Soekandar

“Dalam teori manajemen kesehatan, peningkatan kualitas layanan sangat bergantung pada continuous professional development (CPD) atau pengembangan profesional berkelanjutan,” ungkap dr. Gigih dalam keterangannya.

Melalui kolaborasi ini, dr. Gigih menegaskan tenaga kesehatan di RSUD dapat mengakses pelatihan, penelitian, dan pembelajaran klinis yang lebih mutakhir.
Di sisi lain, bagi UNAIR, kerja sama ini menyediakan wahana praktik klinis yang lebih luas bagi mahasiswa dan peneliti.

“Hal ini penting untuk memastikan bahwa proses pendidikan dan riset RSUD berjalan selaras dengan kebutuhan nyata di lapangan,” ungkapnya.

Rektor UNAIR, Prof. Madyan, menekankan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran berbagai fakultas mulai dari kedokteran, kesehatan masyarakat, hingga keperawatan menunjukkan pendekatan multidisipliner dalam penguatan layanan kesehatan.

Prof. Madyan menyatakan secara global, model integrasi seperti ini terbukti meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Studi dalam sistem Academic Health System menunjukkan bahwa integrasi antara riset dan layanan dapat meningkatkan outcome pasien, mempercepat inovasi medis, serta meningkatkan efisiensi sistem kesehatan.

Baca Juga :  Kejaksaan Kabupaten Mojokerto Tetapkan YF Tenaga Ahli Kampus Ternama sebagai Tersangka Korupsi Dana BLUD di 27 Puskesmas

“Prestasi UNAIR dalam THE Impact Rankings pada periode 2025-2026 peringkat ke 9 dunia, ke 2 Asia, dan pertama di Asia Tenggara dan Indonesia, hal ini menjadi indikator kapasitas institusi dalam menghasilkan dampak nyata berbasis ilmu pengetahuan,” papar Prof. Madyan.

Dalam konteks kerja sama ini, Prof. Madyan menyebut capaian UNAIR tersebut diharapkan dapat ditransfer ke tingkat regional, khususnya Kabupaten Mojokerto dalam hal ini khususnya di bidang kesehatan.

Kolaborasi antara RSUD Prof. dr. Soekandar Mojokerto dan Universitas Airlangga menandai pergeseran paradigma dalam pelayanan kesehatan dari pendekatan konvensional menuju sistem yang terintegrasi, berbasis riset, dan berorientasi pada dampak nyata.

Melalui sinergi ini, Prof. Madyan menyebut rumah sakit tidak hanya menjadi tempat penyembuhan, tetapi juga pusat riset dan  inovasi dan pembelajaran demi peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Dalam jangka panjang, Ia mengatakan kerja sama ini akan sangat ditentukan oleh konsistensi implementasi, kualitas riset yang dihasilkan, serta sejauh mana hasilnya dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan layanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kolaborasi ini berpotensi menjadi model penguatan sistem kesehatan daerah yang berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan,” pungkasnya.

Sebelumnya

Menguji Netralitas Polisi dalam OTT Dugaan Pemerasan oleh Wartawan terhadap Pengacara Kasus Narkoba Mitra Polres Mojokerto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Moralita
Bagikan Halaman