RSUD Prof. dr. Soekandar Mojokerto Sabet Penghargaan TOP BUMD Awards 2026 Bintang 4
Mojokerto, Moralita.com – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh RSUD Prof. dr. Soekandar Kabupaten Mojokerto dalam ajang bergengsi TOP BUMD Awards 2026. Rumah sakit plag merah milik Pemerintah Kabupaten Mojokerto tersebut berhasil meraih penghargaan TOP BUMD Awards 2026 dengan predikat Bintang 4.
Penghargaan yang rutin digelar sejak tahun 2016 itu, setiap BUMD harus melewati proses penilaian oleh Dewan Juri TOP BUMD Awards 2026. Hal itu terbagi dalam beberapa tahap sedari pengisian kuesioner, wawancara penjurian, dan sidang pleno dewan juri.
Acara puncak TOP BUMD Awards 2026 tersebut digelar di Hotel Raffles Jakarta. Serta dihadiri oleh 800-an orang dari berbagai kalangan. Mereka antara lain petinggi BUMD, kepala daerah penerima penghargaan, pakar/konsultan bisnis, media massa, dan lain-lain digelar Ballroom, Raffles Jakarta, Senin siang (13/4/2026)
Torehan gemilang RSUD Prof. dr. Soekandar ini sebagai bentuk pengakuan atas kinerja, inovasi, serta kontribusinya dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Top BUMD Awards 2026 ini diikuti oleh 248 BUMD/BLUD terbaik di Indonesia

Tidak berhenti pada satu kategori, RSUD Prof. dr. Soekandar juga meraih penghargaan khusus TOP BUMD Awards 2026 Bidang Inovasi Operasional dan Layanan Rumah Sakit. Penghargaan ini diberikan atas keberhasilan rumah sakit dalam menghadirkan berbagai terobosan pelayanan yang berorientasi pada peningkatan kualitas layanan pasien, efisiensi operasional, serta pemanfaatan teknologi dalam sistem layanan kesehatan.
Dalam perspektif manajemen rumah sakit modern, capaian ini menunjukkan bahwa RSUD tidak hanya berfungsi sebagai penyedia layanan kuratif, tetapi juga sebagai institusi yang mampu mengintegrasikan clinical excellence dengan operational excellence.
Keberhasilan ini turut didukung oleh kepemimpinan daerah yang dinilai visioner. Dalam ajang ini juga, Bupati Mojokerto, Dr. H. Muhammad Albarraa (Gus Barra) dianugerahi penghargaan TOP Pembina RSUD 2026.
Penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi atas peran aktifnya dalam mendorong penguatan tata kelola, meningkatkan kualitas layanan kesehatan, serta mengembangkan inovasi berkelanjutan di RSUD.
Dalam kerangka kebijakan publik, peran kepala daerah sebagai policy driver menjadi faktor kunci dalam memastikan layanan kesehatan daerah berjalan optimal dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Direktur RSUD Prof. dr. Soekandar, dr. Gigih Setijawan, Sp.P, MARS, juga meraih penghargaan TOP CEO RSUD 2026.
Penghargaan ini diberikan atas kepemimpinannya yang dinilai berhasil membawa transformasi signifikan dalam manajemen rumah sakit, khususnya dalam peningkatan mutu layanan, penguatan sumber daya manusia, serta inovasi berkelanjutan dalam operasional.
Transformasi ini mencerminkan implementasi prinsip good hospital governance, di mana tata kelola, akuntabilitas, dan kualitas layanan menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Historis Transformasi: Dari Puskesmas ke RSUD Kelas B Pendidikan
RSUD Prof. dr. Soekandar memiliki perjalanan historis yang panjang. Rumah sakit ini telah berusia 25 tahun, dan terus menunjukkan perkembangan signifikan sejak awal berdirinya sebagai puskesmas.
Kini, fasilitas kesehatan tersebut telah bertransformasi menjadi rumah sakit dengan kapasitas dan layanan yang semakin lengkap, guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks.
Plt. Wakil Direktur Pelayanan RSUD Prof. dr. Soekandar, dr. Anggono Ratma Arfianto, Sp.A, menjelaskan bahwa perjalanan panjang tersebut menjadi fondasi utama RSUD dalam membangun kualitas capaian layanan hingga saat ini.
“RSUD Prof. dr. Soekandar awalnya adalah puskesmas. Dalam 25 tahun terakhir, kami terus berbenah dan berkembang menjadi fasilitas kesehatan yang lebih komprehensif,” ujarnya, Selasa (15/4/2026).
Berlokasi di Jalan Hayam Wuruk No. 25, Mojosari, Kabupaten Mojokerto, RSUD Prof. dr. Soekandar kini menjadi salah satu rumah sakit rujukan utama di wilayah Mojokerto, Sidoarjo, Jombang dan sekitarnya.
Sebagai rumah sakit kelas B pendidikan, RSUD ini memiliki peran strategis tidak hanya dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang medis.
Dengan luas bangunan mencapai 32.102,50 m² di atas lahan seluas 17.426 m², rumah sakit ini dilengkapi berbagai fasilitas medis modern.
Saat ini, RSUD Prof. dr. Soekandar memiliki kapasitas 247 tempat tidur, didukung oleh 603 karyawan kompeten, serta tambahan 160 tenaga outsourcing.
Kapasitas ini menunjukkan kesiapan rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan secara komprehensif dan berkelanjutan kepada masyarakat.
Ajang TOP BUMD Awards merupakan kegiatan tahunan yang menilai kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di seluruh Indonesia. Penilaian dilakukan berdasarkan berbagai indikator, antara lain kinerja bisnis, layanan publik, inovasi, serta kontribusi terhadap pembangunan daerah.
Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri Kemendagri RI, Yusharto Huntoyungo, dalam pidato kuncinya menegaskan pentingnya inovasi dan tata kelola dalam pengelolaan BUMD.
“BUMD harus terus memperkuat inovasi, tata kelola perusahaan, serta sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa BUMD merupakan bagian dari implementasi otonomi daerah yang bertujuan mendorong kemandirian ekonomi daerah.
“BUMD tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga menjalankan fungsi pelayanan publik,” jelasnya.
Dalam konteks ekonomi kelembagaan, Yusharto menekankan bahwa BUMD sektor pelayanan publik idealnya mencapai kondisi full cost recovery dengan tambahan margin sekitar 10 persen, guna menjaga keberlanjutan operasional.
Sementara itu, Ketua Penyelenggara TOP BUMD Awards 2026, M. Lutfi Handayani, menegaskan bahwa BUMD harus menjadi pemain utama dalam perekonomian daerah.
“BUMD yang hebat tidak lahir dari kompetisi semata, tetapi dari kemauan untuk terus belajar, berbenah, dan bertransformasi,” ujarnya.
Ketua Dewan Juri, Prof. Dr. Djohermansyah Djohan, menjelaskan bahwa tema tahun ini adalah ‘Inovasi BUMD dalam Pembangunan Berkelanjutan’.
Penilaian dilakukan secara objektif dan independen berdasarkan empat aspek utama yakni:
– kinerja bisnis yang sehat dan berkelanjutan,
– inovasi dan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement),
– kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah,
– peran strategis BUMD/BLUD dalam pembangunan berkelanjutan.
Selain itu, kontribusi BUMD juga dinilai melalui lima pilar utama:
– pengelolaan lingkungan dan energi,
– tanggung jawab sosial,
– tata kelola perusahaan (GCG),
– ketahanan pangan dan air,
– pembangunan ekonomi daerah.






