Apresiasi Gerakan Mahasiswa UINSA Surabaya Menolak Rektor Hingga Respon Komisi VIII DPR RI
Surabaya, Moralita.com – Gelombang aksi dan langkah advokasi mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya dalam merespons krisis kepemimpinan rektor terus menuai simpati dan dukungan akademisi.
Dosen Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UINSA, Dr. H. Imron Rosyadi, MH, menyampaikan apresiasi mendalam atas konsistensi dan integritas gerakan mahasiswa yang dinilainya murni lahir dari kepekaan nurani serta realitas objektif di lingkungan kampus.
Dr. Imron menegaskan bahwa artikulasi sikap yang ditunjukkan mahasiswa merupakan refleksi otentik atas apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan secara langsung di lapangan. Gerakan ini membuktikan bahwa mahasiswa tetap berperan efektif sebagai garda depan penyambung lidah sivitas akademika yang merindukan pembenahan tata kelola institusi.
”Idealisme mahasiswa itu murni atas dasar apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan secara langsung. Aksi ini membuktikan kepekaan mereka dalam mewakili suara batin seluruh sivitas akademika UINSA,” ucap Dr. Imron kepada wartawan, Selasa malam (22/9/2026).
Dr. Imron juga menyebut sivitas akademika yang datang menerima undangan ke Komisi VIII DPR RI yang dihadiri unsur Tenaga Kependidikan, Dosen, Guru Besar dan Alumni dalam naungan Forum Komunikasi untuk Perubahan UINSA dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VIII DPR RI juga merepresentasikan kondisi secara akurat yang terjadi di kampus. Hal tersebut sebagai bagian yang tak terpisahkan sebagai ‘gerakan gayung bersambut bentuk nyata langkah advokasi dari tuntutan aksi mahasiswa’.
Lebih lanjut, dosen hukum UINSA tersebut menekankan bahwa gerakan independen ini steril dari determinasi politik praktis maupun sublimasi kepentingan pragmatis.
“Tentu idealisme mahasiswa tersebut tidak dapat ditunggangi oleh kepentingan individu, kelompok, maupun golongan tertentu. Gerakan mereka secara faktual mewakili aspirasi kolektif. Aksi dan reaksi mahasiswa adalah bagian tak terpisahkan dari keprihatinan yang dirasakan sivitas akademika sebuah keberanian mencurahkan kebenaran hingga akhirnya didengar dan direspons secara konkrit oleh Komisi VIII DPR RI,” tambahnya.
Eskalasi aksi mahasiswa UINSA yang berhasil menembus ruang sidang DPR RI mendulang respons tegas dari Komisi VIII, mereka mengagendakan pemanggilan resmi terhadap Menteri Agama RI guna meminta pertanggungjawaban atas kondisi institusi. Langkah ini menguatkan pernyataan salah satu anggota Komisi VIII DPR RI yang secara tajam mengingatkan kementerian agar bertindak bijaksana.
“Janganlah mengorbankan masa depan 25 ribu mahasiswa hanya demi membela kepentingan satu orang, yakni Rektor Akh. Muzakki,” ulasnya.
Keberhasilan gerakan mahasiswa menembus ranah pengawasan publik nasional ini menjadi modalitas penting dalam mengawal penegakan tata kelola perguruan tinggi keagamaan Islam negeri yang bersih, akuntabel, serta berorientasi penuh pada perlindungan hak-hak akademik mahasiswa.
Ia juga menyebut hasil RDP Komisi VIII bersama Menteri Agama merekomendasikan sebuh keputusan bahwa mendesak Menteri Agama untuk memproses penetapan Rektor UINSA periode 2026-2030 yang baru secara transparan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Maka Menag wajib merealisasikan penetapan rektor baru UINSA sebelum 1 minggu terhitung sejak 22 September 2026 sesuai amanat keputusan RDP Komisi VIII,” ungkapnya.
Pun demikan dalam keputusan rapat bersama komisi VIII lanjut Dr. Imron, agar Menteri Agama mengevaluasi PMA nomor 4 tahun 2024 tentang perubahan kedua atas PMA nomor 68 tahun 2015 tentang pengangkatan dan pemberhentian Rektor/Ketua Perguruan tinggi keagamaan yang diselenggarakan pemerintah agar sesuai dengan peraturan perundangan diatasnya.
Dr. Imron juga berpesan memberikan saran kepada gerakan mahasiswa yang melakukan aksi tetap damai dan bermartabat. Hibdari merusak fasilitas kampus sebagai aset negara agar kondisi kampus tetap kondusif.
“Pesan kepada mahasiswa dalam melakukan aksi agar tidak melakukan intimidasi, kekerasan atau tindakan yang mengganggu keselamatan, lakukan aksi dengan kreatifitas positif,” ucapnya.
Menurut Dr. Imron, perlunya kegiatan menyampaikan aspirasi dengan warna yang menyejukkan, model mahasiswa dalam aksi dapat dilakukan kegiatan dzikir bersama, istighozah, pembacaan sholawat dan sholat hajat.
“Ikhtiar jalur langit dan bumi merupakan sebuah rangkaian kegiatan yang tak terpisahkan agar semua tercapai sesuai harapan sivitas akademika UINSA Surabaya,” tandas Dr. Imron.






