Mayat Misterius di Jurang Temon Pacitan, Titik Akhir Pelarian Pelaku Pembacokan?
Pacitan, Moralita.com – Desa Temon, Kecamatan Arjosari, Pacitan mendadak jadi panggung horor publik. Sesosok mayat laki-laki ditemukan tergeletak di sebuah jurang, hanya terpaut sekitar 2 kilometer dari lokasi penganiayaan brutal lima hari sebelumnya.
Penemuan ini seakan menutup rangkaian tragedi berdarah yang menyeret nama AS pelaku pembacokan membabi buta sebagai figur sentral.
Namun, seperti biasa, sebuah mayat tak pernah hanya soal jasad. Ia selalu membawa jejak, memicu spekulasi, dan menggiring warga pada tafsir berlapis: apakah ini benar-benar akhir dari pelarian AS, atau hanya potongan awal dari drama sosial yang lebih panjang?
Proses evakuasi mayat dari dasar jurang melibatkan tim gabungan polisi, TNI, hingga relawan warga yang rela menuruni medan curam demi mengangkat tubuh yang sudah tak utuh lagi. Setelah berhasil diangkat, jenazah langsung dibawa ke RSUD dr Darsono untuk menjalani pemeriksaan medis.
Hingga pukul 15.00 WIB, jasad tersebut masih terbujur di kamar jenazah. Bau kematian bercampur misteri menggantung di udara, menanti kepastian identitas.
Tim Inafis Polres Pacitan bersama dokter forensik melakukan serangkaian identifikasi. Kapolres Pacitan, AKBP Ayub Diponegoro Azhar, bahkan ikut menyaksikan langsung prosesnya. Dari hasil pemeriksaan awal, ciri-ciri fisik jenazah identik dengan AS sosok pelaku pembacokan lima hari lalu.
“Untuk memperkuat hasil, kami menghadirkan anak dari tersangka. Ia menyatakan pakaian yang digunakan adalah milik tersangka, sama dengan yang dipakai saat beraksi dan melarikan diri ke hutan,” jelas Ayub, Kamis (25/9) sore.
Meski temuan ini tampak gamblang, Kapolres tetap meminta masyarakat menahan diri. Ia mengingatkan publik agar tidak terjebak dalam banjir spekulasi atau bahkan ikut menyebarkan foto jenazah yang beredar di grup WhatsApp kampung.
“Masyarakat tetap tenang dan menunggu keterangan resmi dari kepolisian. Jangan menyebarkan informasi atau foto dari temuan ini, karena bisa menimbulkan tafsir liar bahkan hoaks,” tegas Ayub.
Di era di mana forward dan share lebih cepat dari nalar, imbauan ini jadi penting. Karena satu gambar buram bisa melahirkan seribu teori konspirasi.
Di sela konferensi pers, Kapolres menyampaikan apresiasi. “Kami atas nama pimpinan Polres Pacitan mengucapkan terima kasih kepada aparat gabungan TNI/Polri, K9, dan terutama warga Desa Temon. Hormat setinggi-tingginya,” pungkas Ayub.
Ucapan ini mungkin terdengar formal. Namun di baliknya, ada pengakuan tulus: tanpa keterlibatan warga lokal, pencarian di medan Pacitan yang terjal nyaris mustahil.
Untuk mengingat, lima hari sebelumnya publik Pacitan diguncang tragedi. AS mengamuk dengan sebilah parang, menyerang keluarga mantan istrinya. Aksi itu merenggut nyawa Timi (60), sang mantan mertua. Empat korban lain dilarikan ke RSUD dr Darsono Pacitan.
- Miswati: masih dirawat intensif.
- Miskun & Eki: sudah diperbolehkan pulang.
- ANS: bocah kelas 5 SD, harus dirujuk ke Yogyakarta karena luka parah. Sayangnya, ANS meninggal saat menjalani perawatan.
Tragedi ini bukan sekadar soal kriminalitas, tapi juga potret getir bagaimana konflik keluarga bisa menjelma jadi bencana komunal.
Jika jenazah di jurang benar AS, maka publik kehilangan satu hal penting, ruang pengadilan untuk membongkar motif, rekonstruksi, hingga pertanggungjawaban formal. Keadilan yang mestinya terwujud lewat proses hukum, kini mati bersama tubuh AS di dasar jurang.
Kasus ini menyisakan ironi: korban sudah jatuh, pelaku pun jatuh, tapi masyarakat tetap merasakan luka kolektif. Tragedi ini akan lama diingat, bukan hanya karena darah yang tumpah, tapi juga karena keadilan yang terasa “gantung di tebing”.
Dari riak desas-desus beberpa masyarakat di Desa Temon menunjukkan campuran antara lega dan getir. Lega karena pelarian berakhir, getir karena tragedi ini mengubur banyak cerita tanpa sempat didengar di pengadilan.







